Anda sedang membuka halaman
[postlink]
https://doresedit.blogspot.com/2010/08/uang-negara-dibajak.html[/postlink]
endofvid
[starttext]
Jual kaset, CD, VCD dan DVD tanpa pajak
[endtext]
[starttext]
Jual kaset, CD, VCD dan DVD tanpa pajak
JAKARTA (Pos Kota) -Sangat keterlaluan. Uang pajak negara yang diharapkan mendatangkan pemasukan untuk kemakmuran rakyat, dengangampangnya dikuras mafia pembajak. Dalam setahun, Rp16 triliun uang negara dirampok.
Pembajakan karya seni dalam bentuk kaset, CD/VCD dan DVD, menurut Ketua Umum Persatuan Artis Penyanyi Penata Rekaman Indonesia (PAPP-Rl), Dharma Oratmangun, mengakibatkan negara kehilangan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen dan Pajak Penghasilan (PPh) 15 persen dari penjualan kaset dan CD/VCD, senilai Rpl6 triliun setiap tahun. "Bila pembajakan tidak bisa diatasi, maka produksi musik Indonesia bisa hancur," kata Dharma, kemarin.
Untuk mengatasi itu semua, menurut Dharma, pelaksanaan II Hak Cipta nomor 19 harus benar-benar dijalankan. Dharma menyarankan agar pemerintah lebih serius menangani masalah pembajakan kaset dan lagu-lagu atau karya rekaman lainnya. Menurutnya, pelaku pem-bajakan hampir tidak pernah diseret ke pengadilan. Bahkan, lebih ironis lagi, barang bajakan yang disita kepolisian malah keluar la£i dan beredar di pasaran.
GULUNG TIKAR
Sementara Marulam J. Hutahuruk, dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI), juga mengatakan, akibat ulah mafia pembajak yang kian merajalela, telah menghancurkan perusahaan rekaman. Sekitar 170 perusahaan rekaman di Indonesia bangkrut. Dikatakannya, kerugian artis dan produser mencapai Rp2,S triliun lebih. Jumlah lagu v.mn dibajak pun meningkat dari tahun ke tahun.Tahun 2006 sebanyak 400 juta keping, tahun 2007 meningkat 470 juta keping, tahun 2008 menjadi 500 juta keping, dan sampai Mei 2009 sudah mencapai 560 juta keping kaset, MP3.VCD, DVD bajakan yang beredar tanpa membayar pajak cukai.
REKAMAN VIDEO
Kerugian akibat ulah pembajak juga dirasakan oleh Asosiasi Industri Rekaman Video Indonesia (Asirevi) sekitar Rp 1,5 triliun pertahun. Hal itu diungkapkan Sekjen AsirevL, Wihadi Wiyanto. Menurut dia, sebelum maraknya pembajakan, pen jualanVCD-satu judul film nasional berkisar Rp200 juta - Kp,(io juta per tahun. Kini, hanya sekitar Rp5O juta - Rp 100 juta.
"Karena minat pembeli DVD danVCD orginal berkurang, maka penjualan film nasiona] ke distributor jadi rendah," katanya. Berbagai upaya dilakukan, termasuk menurunkan harga jual DVD dan VCD original, termasuk membuat paket murah, agar penjualan meningkat. Namun, gagal.
SULIT DIBERANTAS
Berbagai organisasi anti pembajakan pun dibentuk oleh para seniman musik. Seperti Deddy Dores bersama para musisi yang membentuk Suara Perjuangan Artis Indo-nesia (Spaind) dan beberapa organisasi lain. Namun, hasilnya belum memuaskan. Menurut Ketua Lembaga Koordinasi Gerakan Anti Pembajakan, Togar Sianipar, upaya pemberantasan pembajakan memang bukan perkara mudah.
Hal Senada diungkapkan pengamat musik Bens Leo. "Agak susah memang. Sebab, kita sudah terlanjur membiarkan pembajakan merajalela. Sekarang ini dari 10 kaset/CD/ VCD yang beredar hampir 90 persen merupakan produk bajakan," tegasnya. Sedangkan produser Shel-mer Records, Henry Siregar, mengaku rugi ratusan juta akibat ulah pembajak."Pembajakan sulit untuk dibendung. Saya mensinyalir produk bajakan ini muncul karena ulah orang pabrik, bisa saja kerjasama dengan kalangan produser nakal," ujarnya.
PENYANYI MARAH
Pembajakan yang merajalela itu membuat para musisi dan penyanyi gerah. Sebut saja M.ii.i Estianty, Angel Lel-ga, Cinta Laura dan A Fe na. "Biaya rekaman dan produksi sangat mahal, belum meraup untung, album kita malah sudah beredar bajakannya. Memang lagu itu jadi terkenal, tetapi tetap saja merugi secara materi," tutur Maia.
Angel Lelga heran dengan kecanggihan pembajak sehingga barang palsu terlihat seperi asli. "Saya berharap masyarakat punya kesadaranuntuk tidak membajak, dan pemerintah hams tegas dalam menjalankan undang undang hak cipta," harap Angel, seraya menambahkan single Per tama miliknya sangat banyak bajakannya.
Sementara itu. Cinta Laura mengatasi pembajakan den gan cara tersendiri. "Aku me nyiasatinya dengan menawarkan VCD atau kaset asli di toko-toko tertentu, dan memper luas pemasaran lainnya. Aku sangat berharap para pembajak ini segera diberangus," kata penembang lagu Cint.i Atau Uang dan Oh Baby. Sedangkan produser Na ga swara, Rahayu Kertawigu-na mengatakan pembajakan di Indonesia merupakan masalah klasik. "Kami selalu menyerukan kampanye anti pembajakan. Kami juga mi nyiasatinya dengan melun curkan single bukan dalam bentuk album. Hal itu untuk menghindari pembajakan," tandasnya.
RING BACK TONE
Guna mengatasi pembnju kan, kini produser mengaliri kan sistem penjualan, yakin dengan metode digital atau Ring Back Tone (RBT).
Menurut Bens Leo, penp gunaan RBT lumayan menr untungkan p/oduser, musisi dan penyanyi. "Namun, sa yangnya, karya yang di munculkan tidak utuh. Jadi, ada sesuatu yang hilang," jelasnya, (anggara/santosn/ rizal/mia/rf/r)
Pembajakan karya seni dalam bentuk kaset, CD/VCD dan DVD, menurut Ketua Umum Persatuan Artis Penyanyi Penata Rekaman Indonesia (PAPP-Rl), Dharma Oratmangun, mengakibatkan negara kehilangan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen dan Pajak Penghasilan (PPh) 15 persen dari penjualan kaset dan CD/VCD, senilai Rpl6 triliun setiap tahun. "Bila pembajakan tidak bisa diatasi, maka produksi musik Indonesia bisa hancur," kata Dharma, kemarin.
Untuk mengatasi itu semua, menurut Dharma, pelaksanaan II Hak Cipta nomor 19 harus benar-benar dijalankan. Dharma menyarankan agar pemerintah lebih serius menangani masalah pembajakan kaset dan lagu-lagu atau karya rekaman lainnya. Menurutnya, pelaku pem-bajakan hampir tidak pernah diseret ke pengadilan. Bahkan, lebih ironis lagi, barang bajakan yang disita kepolisian malah keluar la£i dan beredar di pasaran.
GULUNG TIKAR
Sementara Marulam J. Hutahuruk, dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI), juga mengatakan, akibat ulah mafia pembajak yang kian merajalela, telah menghancurkan perusahaan rekaman. Sekitar 170 perusahaan rekaman di Indonesia bangkrut. Dikatakannya, kerugian artis dan produser mencapai Rp2,S triliun lebih. Jumlah lagu v.mn dibajak pun meningkat dari tahun ke tahun.Tahun 2006 sebanyak 400 juta keping, tahun 2007 meningkat 470 juta keping, tahun 2008 menjadi 500 juta keping, dan sampai Mei 2009 sudah mencapai 560 juta keping kaset, MP3.VCD, DVD bajakan yang beredar tanpa membayar pajak cukai.
REKAMAN VIDEO
Kerugian akibat ulah pembajak juga dirasakan oleh Asosiasi Industri Rekaman Video Indonesia (Asirevi) sekitar Rp 1,5 triliun pertahun. Hal itu diungkapkan Sekjen AsirevL, Wihadi Wiyanto. Menurut dia, sebelum maraknya pembajakan, pen jualanVCD-satu judul film nasional berkisar Rp200 juta - Kp,(io juta per tahun. Kini, hanya sekitar Rp5O juta - Rp 100 juta.
"Karena minat pembeli DVD danVCD orginal berkurang, maka penjualan film nasiona] ke distributor jadi rendah," katanya. Berbagai upaya dilakukan, termasuk menurunkan harga jual DVD dan VCD original, termasuk membuat paket murah, agar penjualan meningkat. Namun, gagal.
SULIT DIBERANTAS
Berbagai organisasi anti pembajakan pun dibentuk oleh para seniman musik. Seperti Deddy Dores bersama para musisi yang membentuk Suara Perjuangan Artis Indo-nesia (Spaind) dan beberapa organisasi lain. Namun, hasilnya belum memuaskan. Menurut Ketua Lembaga Koordinasi Gerakan Anti Pembajakan, Togar Sianipar, upaya pemberantasan pembajakan memang bukan perkara mudah.
Hal Senada diungkapkan pengamat musik Bens Leo. "Agak susah memang. Sebab, kita sudah terlanjur membiarkan pembajakan merajalela. Sekarang ini dari 10 kaset/CD/ VCD yang beredar hampir 90 persen merupakan produk bajakan," tegasnya. Sedangkan produser Shel-mer Records, Henry Siregar, mengaku rugi ratusan juta akibat ulah pembajak."Pembajakan sulit untuk dibendung. Saya mensinyalir produk bajakan ini muncul karena ulah orang pabrik, bisa saja kerjasama dengan kalangan produser nakal," ujarnya.
PENYANYI MARAH
Pembajakan yang merajalela itu membuat para musisi dan penyanyi gerah. Sebut saja M.ii.i Estianty, Angel Lel-ga, Cinta Laura dan A Fe na. "Biaya rekaman dan produksi sangat mahal, belum meraup untung, album kita malah sudah beredar bajakannya. Memang lagu itu jadi terkenal, tetapi tetap saja merugi secara materi," tutur Maia.
Angel Lelga heran dengan kecanggihan pembajak sehingga barang palsu terlihat seperi asli. "Saya berharap masyarakat punya kesadaranuntuk tidak membajak, dan pemerintah hams tegas dalam menjalankan undang undang hak cipta," harap Angel, seraya menambahkan single Per tama miliknya sangat banyak bajakannya.
Sementara itu. Cinta Laura mengatasi pembajakan den gan cara tersendiri. "Aku me nyiasatinya dengan menawarkan VCD atau kaset asli di toko-toko tertentu, dan memper luas pemasaran lainnya. Aku sangat berharap para pembajak ini segera diberangus," kata penembang lagu Cint.i Atau Uang dan Oh Baby. Sedangkan produser Na ga swara, Rahayu Kertawigu-na mengatakan pembajakan di Indonesia merupakan masalah klasik. "Kami selalu menyerukan kampanye anti pembajakan. Kami juga mi nyiasatinya dengan melun curkan single bukan dalam bentuk album. Hal itu untuk menghindari pembajakan," tandasnya.
RING BACK TONE
Guna mengatasi pembnju kan, kini produser mengaliri kan sistem penjualan, yakin dengan metode digital atau Ring Back Tone (RBT).
Menurut Bens Leo, penp gunaan RBT lumayan menr untungkan p/oduser, musisi dan penyanyi. "Namun, sa yangnya, karya yang di munculkan tidak utuh. Jadi, ada sesuatu yang hilang," jelasnya, (anggara/santosn/ rizal/mia/rf/r)
[endtext]
Kecuali artikel, situs ini tidak menyimpan file musik apapun pada server. Kami hanya meng-indeks dan menghubungkannya dengan konten yang disediakan oleh situs lain. Jika Anda ragu atau curiga atas keabsahan isi konten, harap jangan ragu-ragu untuk menghubungi kami DI SINI - Terima kasih.
0 komentar:
Posting Komentar